Hari ini saya dapet pelajaran baru tentang bagaimana
seharusnya kita menyikapi soal perbedaan pendapat, terlebih pendapat itu tentang
pandangan umat Muslim mengenai kebiasaan umat Muslim itu sendiri.
Saya termasuk orang yang tidak begitu paham tentang Hadist,
hanya segelintir ilmu saya jika dibanding saudara-saudara muslim yang lainnya,
tapi disini saya tidak akan membahas pendapat saya vs pendapat muslim yang
lainnya, karena sesungguhnya hidup di dunia pastilah banyak perbedaan pendapat,
itu normal dan manusiawi selama kita tidak keluar dari jalur (Al-qur’an &
Hadist Nabi Muhammad SAW).
Hari ini saya buka FB dan di beranda saya sempat membaca
mengenai sebuah wasiat (bukan wasiat harta gonogini tapi lho… hehehe..) yang
disebutkan kira-kira seperti ini isinya
“Jika kelak aku mati kuburkanlah jenazahku dengan Syar’I
Jangan ada tabur bunga..
Jangan dibangun kuburanku..
Jangan ditulis nama..
Jangan ada azan di jenazahku..
Jangan ada baca yasin di jenazahku..
Jangan ada tahlil-an..
Jangan ada bendera kuning..”
![]() |
| Kutipan Gusdur dari Google.com |
Nah.. ketika kita membaca hal itu, sadarkah kita kalau itu
wasiat seseorang kepada orang lain yang mungkin ditujukan kepada keluarga dan
kerabatnya..?
Tapi disitu banyak banget yang coment dan akhirnya terjadi
perdebatan dengan nada bicara yang seolah-olah saling menyalahkan dan menganggap
pendapatnyalah yang BENAR.. Waduh… kok jadi begini ya…
Coba kita bisa menyikapinya dengan baik.., biarkan orang
berfikir kepada apa yang diyakininya selagi itu tidak menyimpang dari yang
telah diajarkan Imam / alim Ulama kita, karena setelah Rosulullah SAW dan para
sahabatnya, merekalah yang lebih paham mengenai Al-qur’an dan Hadist Nabi, dan
kita juga pasti tahu banyak pendapat yang berbeda antara Imam Syafi’i, Imam
Hambali, Imam Hanafi dan Imam Malik…
lalu apakah kita harus 1 pendapat sedang imam kita yang
sangat cerdas-pun masih berbeda pendapat.. disinilah kita harus bisa mengambil
hikmah dari sebuah perbedaan itu.
Kita ambil contoh, cara pemakaman Mukmin yang Syahid dan
Mukmin yang meninggal biasa (bukan syahid) jelas berbeda, orang yang syahid
tidak membutuhkan lagi yang namanya kain kafan, dimandikan bahkan tanpa doa
dari siapapun Insya Allah.. Alllah telah menjaminnya masuk surga. Tapi orang
yang bukan mati syahid Insya Allah masih perlu di doakan (anak dan keluarganya)
dan ga ada salahnya jika orang lain pun mendoakan untuk si Almarhum.
Kalo soal bendera kuning ya mingkin Cuma untuk tanda saja
bahwa disitu ada orang yang baru meninggal.. jadi kalo keluarga atau tetangga
yang belum tahu jadi tahu.. itu saja..!
Jadi kesimpulannya kita belajjar untuk menghargai pendapat
orang lain dan jika kita merasa pendapat kita benar sampaikanlah tanpa harus
memaksakan orang untuk meyakininya.. toh semuanya masih berpegang teguh pada
Al-qur’an & Hadist, hanya berbeda cara penafsiran..
Dan jangan lupa, yang menafsirkan itu Imam yang sholeh lho..
kita jalani mana yang kita yakini lebih tepat. Saya rasa jika kita semua
bersikap seperti itu maka insya Allah Ukhuwah Islamiyah yang terjalin antara
kita dapat lebih terjaga keeratannya.
Wallahua’lam..
Semoga kita termasuk orang-orang yang diberkahi keimanan dan
ketaqwaan yang teguh oleh Allah SWT.
Amin ya robbal
alamin..
